Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusulkan atau diuji coba dengan metode prasmanan (buffet/prasmanan) bertujuan untuk meningkatkan kualitas makanan agar tetap hangat, segar, dan mengurangi sampah plastik wadah sekali pakai. Konsep ini memungkinkan siswa mengambil porsi makanannya sendiri dengan pendampingan, menciptakan suasana kebersamaan dan pendidikan gizi, seperti yang diterapkan di beberapa sekolah seperti di Dharmasraya, Sumatera Barat dan Sukabumi.
Berikut adalah detail pelaksanaan MBG dengan konsep prasmanan:
1. Konsep & Alur Pelayanan
Penyajian: Makanan tidak dikemas dalam wadah plastik atau ompreng per porsi, melainkan disajikan di meja panjang menggunakan alat penghangat makanan (Bain Marie) untuk menjaga suhu makanan tetap hangat.
Pengambilan: Siswa antre dan mengambil makanan secara mandiri atau dibantu petugas/relawan untuk porsi lauk tertentu agar tetap sesuai standar gizi.
Kebersihan: Metode ini mengharuskan adanya area cuci tangan yang memadai dan alat makan yang higienis.
2. Standar Menu dan Gizi
Isi Piringku: Menu tetap merujuk pada standar Badan Gizi Nasional (BGN), mencakup karbohidrat, protein hewani (minimal dua jenis), protein nabati, sayuran, dan lemak sehat.
Bahan Baku: Menggunakan bahan pangan lokal, segar, dan tidak menggunakan banyak bahan pengaw, serta tidak menggunakan bahan makanan pabrikan/instan.
Contoh: Nasi, ayam goreng/bakar, telur rebus, tumis sayuran, buah, dan susu (terutama di daerah yang memiliki peternakan).
3. Infrastruktur & Dapur (SPPG)
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG): Dapur disiapkan dengan standar higienis yang tinggi.
Peralatan: Membutuhkan Rice Steamer, Cooking Mixer, Bowl Cutter, dan alat angkut makanan yang steril ke lokasi prasmanan.
Kapasitas: Satu dapur SPPG dapat melayani hingga 3.000 porsi per hari.
4. Keunggulan & Tantangan
Keunggulan: Makanan lebih segar dan panas, mengurangi limbah kemasan, dan memberikan fleksibilitas bagi siswa untuk memilih porsi.
Tantangan: Membutuhkan ruang makan yang luas, pengawasan lebih ketat agar tidak berebutan, dan memastikan antrean tetap teratur.
Konsep prasmanan ini merupakan salah satu inovasi, di samping metode konvensional (nasi kotak/box), untuk memastikan tujuan gizi nasional tercapai dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan nyaman bagi siswa.






