Nasi tumpeng harus ada karena merupakan simbol penting dari rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan kesejahteraan, dengan bentuk kerucutnya yang melambangkan gunung suci dan hubungan manusia dengan Tuhan. Tradisi ini sering digunakan dalam berbagai acara seperti syukuran, ulang tahun, dan upacara adat sebagai bentuk doa dan ucapan terima kasih.
Makna filosofis nasi tumpeng
- Simbol Gunung Suci: Bentuk tumpeng yang kerucut mewakili gunung yang dianggap suci dan tempat bersemayamnya para dewa dalam kepercayaan kuno. Puncaknya melambangkan Tuhan Yang Maha Esa.
- Simbol Rasa Syukur: Menyajikan tumpeng adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala rezeki dan keselamatan yang telah diberikan, seperti pada kelahiran, pernikahan, atau panen.
- Simbol Kesejahteraan dan Harapan: Nasi yang menjulang ke atas melambangkan harapan agar kehidupan terus meningkat, sementara lauk-pauk di sekelilingnya melambangkan kondisi alam dan kesejahteraan yang melimpah.
- Simbol Kebersamaan: Tumpeng juga menjadi sarana untuk berkumpul dan makan bersama, mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan komunitas dalam merayakan momen penting.
- Simbol Kehidupan: Lauk-pauk yang melengkapi tumpeng juga memiliki makna tersendiri, seperti telur rebus yang melambangkan tekad bulat dan ikan asin yang mencerminkan gotong royong.
Kapan nasi tumpeng digunakan?
- Perayaan Kehidupan: Ulang tahun, pernikahan, tingkeban (syukuran kehamilan), tedhak siten (upacara turun tanah), dan sunatan.
- Momen Syukur: Kelahiran, panen, pindah rumah, atau peresmian gedung baru.
- Peringatan Penting: Peringatan hari kemerdekaan (17-an) atau upacara adat lainnya.
INFO PEMESANAN NASI TUMPENG AREA SURABAYA UNTUK BERBAGAI KEPERLUAN BISA MENGHUBUNGI WA 0812 3248 6661

