Peringatan Hari Besar Islam dengan Tumpeng. Cocok kah ?

Secara budaya, tumpeng sering digunakan untuk memperingati hari besar dan momen penting di Indonesia, termasuk hari besar Islam. Penggunaannya umumnya dianggap cocok dan merupakan ekspresi budaya lokal yang diterima secara luas, meskipun ada sedikit perdebatan di kalangan ulama mengenai kesesuaiannya dari sudut pandang syariat murni.
Berikut penjelasannya:
Perspektif Budaya : Tumpeng adalah simbol rasa syukur dan perayaan yang mengakar kuat dalam budaya Jawa dan Nusantara. Ia melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Dalam konteks ini, tumpeng digunakan sebagai sarana ekspresi budaya untuk menyemarakkan peringatan, bukan sebagai bagian dari ritual ibadah wajib. Banyak umat Islam di Indonesia menggunakan tumpeng saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, atau Idul Fitri
Perspektif Syariat : Dalam ajaran Islam, tidak ada dalil yang secara spesifik memerintahkan atau melarang penggunaan tumpeng untuk peringatan hari besar. Hal-hal yang berkaitan dengan perayaan hari besar dalam Islam, seperti makan bersama, pada dasarnya diperbolehkan selama tidak mengandung unsur kemusyrikan atau bertentangan dengan syariat. Sebagian ulama berpendapat bahwa perayaan hari besar Islam sebaiknya fokus pada ibadah dan pengamalan ajaran agama, namun penggunaan tumpeng sebagai hidangan perjamuan biasanya diterima sebagai ‘urf (kebiasaan lokal) yang mubah (diperbolehkan).
Kesimpulan :
Ya, penggunaan tumpeng untuk peringatan hari besar Islam cocok dalam konteks budaya Indonesia, selama diniatkan sebagai ungkapan rasa syukur dan kebersamaan, dan bukan sebagai ritual ibadah yang diwajibkan oleh agama. Hal ini lebih bersifat tradisi perayaan yang menghargai warisan budaya sambil tetap berada dalam koridor ajaran Islam.

Untuk pemesanan Nasi Tumpeng Surabaya bisa menghubungi WA 0812 3248 6661

www.kuliena.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *